Mengenal Toxic Masculinity, Benarkah Pria Harus Selalu Kuat dan Tangguh?

Mengenal toxic masculinity, benarkah pria harus selalu kuat dan tangguh?– Apa hal yang paling melekat dengan stereotype pria di dalam masyarakat? Kuat? Tangguh? Nggak boleh menunjukkan sisi feminin? atau harus bersifat agresif dan melakukan kekerasan fisik?.

Intinya, kaum pria identik sebagai pihak yang berlawanan dengan wanita, yang notabennya lemah lembut, penurut, sensitif, dan lebih mengandalkan perasaannya dibandingkan logika. Namun, apakah kamu sadar? Sebenarnya, sudut pandang seperti ini nggak bisa dibenarkan bahkan cenderung toxic (beracun). Maka dari itu, munculah istilah Toxic Masculinity yang sebaiknya dipahami oleh banyak orang saat ini.

Apa itu Toxic Masculinity?

Dilansir dari verywellmind, Toxic Masculinity merupakan tekanan masyrakat yang merugikan pihak pria (bahkan dampaknya bisa merambah ke wanita dan orang-orang sekitar) karena mendapatkan label kejantanan, seperti bersifat agresif, dominasi, hingga yang lebih parah adalah sangat anti dengan orang-orang berorientasi seksualnya terhadap sesama jenis (atau biasa yang disebut dengan homopobic).

Singkatnya, Toxic Masculinity mengharuskan pria untuk “mempertahankan kejantannya” dan mengabaikan emosi-emosi yang sebenarnya perlu dikeluarkan (seperti rasa takut, sedih, menangis), sehingga nggak diperkenankan untuk mengekspresikan apa yang dirasakan secara terbuka. Tentunya, hal tersebut sangat mempengaruhi sisi psikologis pria dan bisa memberikan efek yang buruk untuk jangka panjang.

Pada dasarnya, Toxic Masculinity mempunyai tiga komponen utama, di antaranya adalah:

  • Kekuatan (Power): Status sosial dan finansial menjadi dua poin utama yang harus diperoleh pria supaya mendapatkan penghormatan dari orang lain. Jika kedua hal tersebut dimiliki, maka pria merasa mempunyai kekuasaan dan berbagai macam hal. Maka dari itu, banyak pria yang bekerja keras untuk memenuhi hal ini.
  • Anti-Feminitas (Antifeminity): Menunjukan sisi feminin tentunya sangat dihindari pria dan hal tersebut merupakan efek dari Toxic Masculinity. Pria nggak boleh menunjukkan sisi lemahnya, atau nanti mendapatkan dipandang rendah oleh orang lain, bahkan dengan sesama pria sekalipun.
  • Kekerasan (Toughnesss): Poin ini yang paling menonjol ketika Toxic Masculinity masih diterapkan. Pria diharuskan untuk bersikap agresif dan kuat secara fisik maupun emosional.

Dampak Toxic Masculinity

Tentu, yang namanya toxic pasti memberikan efek yang negatif, bukan? Hal tersebutlah yang akan dirasakan oleh pria jika terus menerus berada di lingkungan yang secara langsung memberlakukan Toxic Masculinity, seperti:

  • Trauma dari sisi psikologis karena selalu mengabaikan perasaan ketika dirinya berada di titik lemah dan butuh didengarkan/diekspresikan secara langsung. Akibatnya, pria cenderung lebih banyak mengalami depresi dan melakukan bunuh diri.
  • Kecenderungan untuk melakukan kekerasan pada pasangan atau wanita, baik secara fisik maupun non-fisik. Hal ini tentunya sebagai bukti bahwa pria merasa superior karena hanya mengandalkan sisi kejantanannya saja.
  • Melibatkan kekerasan fisik saat menyelesaikan masalah, bahkan sampai melanggar norma akan tetap dilakukan pria sebagai bentuk perlindungan dirinya.

Ternyata Toxic Masculinity secara nggak langsung memberikan dampak negatif jangka panjang terhadap pria dan merambah ke lingkungan sekitar, ya?

Maka dari itu, mari normalisasi pria tanpa harus memandang sebelah mata ketika menunjukkan sisi emosionalnya. Sama seperti wanita, sebenarnya pria pun mempunyai sisi rapuh yang ingin dimengerti. Namun, sayangnya, Toxic Masculinity yang menghambat hal tersebut dan menjadikan pria harus selalu terlihat baik-baik saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

5 × 4 =

Memelihara Stamina Pria
Distributor Resmi PT. REDMITRA PRIMA PERKASA

PEMBAYARAN YANG DITERIMA

AKUN RESMI MEDIA SOSIAL

Name - City
Membeli Product Time